Archive for the ‘Kisah’ Category

Titipan

Tuesday, April 29th, 2008

Astagfirullah … ,
Membaca puisi ini menjadikan hatiku tersadar. Termasuk semua ilmu yang diberikan adalah titipkan-Nya.
Semoga puisi singkat yang ditulis ws Rendra berikut ini mendekatkan kembali kita kepada yang Maha Kuasa ..

(more…)

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Thursday, January 3rd, 2008

Subhanallah, …
Artikel ini saya dapat dan kutip dari email seorang sahabat.  Sangat menarik untuk disimak dan mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk kehidupan kita dunia dan akhirat.

(more…)

Tas digondol Ketika Shalat

Monday, December 24th, 2007

Percaya atau tidak, ada kisah si tukang tipoe bertitel pencuri yang pura-pura shalat. Ia berpeci tapi radar matanya jelalatan kesana kemari, memantau tas atau bawaan jamaah yang lengah diawasi.
Kejadian ini sudah dua kali saya temui, baik pengalaman dari seorang teman dan pengalaman yang saya temui sendiri.
Pengalaman pertama, kejadiannya di stasiun Gambir Jakarta yang dialami rekan kerja saya yang mau pulang kampung ke Semarang. Ketika ia shalat, ia letakkan tas tersebut dibagian belakang shaf shalatnya. Setelah salam, ia baru sadar ternyata tas yang isinya baju dan sebuah ponsel sudah hilang.
Kedua, sewaktu shalat di PGC Cililitan di lantai yang paling atas ada mesjid kecil yang cukup megah untuk ukuran mesjid yang ada di mall. Untungnya, si pencuri kali ini tertangkap, langsung diamankan dan diinterogasi oleh security di sana.

Tip ketika shalat di mesjid
1. Jika temen-temen shalat di tempat umum, pastikan tas bawaan selalu ditempatkan di depan shaf tempat shalat yang masih bisa dilihat.
2. Ketika berdoa, usahakan mata tetap terbuka dan awasi selalu apa yang dibawa.

Kondektur

Wednesday, December 12th, 2007

Cerita ini bukan mengecilkan seorang kondektur, tapi ada saja kondektur yang berlaku sebagai tukang tipoe seperti yang saya alami sendiri.

Ceritanya begini, perjalanan diawali dari jalan baru dekat kampung rambutan. Kebetulan bis non AC yang saya tumpangi agak sepi. Memang rawan, karena saya pernah mengalami satu kejadian juga dengan si tukang tipoe bareng adik saya ketika naik bis yang kami pilih sepi. Lanjut, di tengah jalan si kondektur seperti biasa menagih ongkos perjalanan yang kebetulan tujuan akhirku di plangi atau plaza semanggi.

Saya membayar ongkos 10 ribu, karena kondekturnya ngga ada kembalian, dia bilang, “Kembaliannya, ntar yaa Pak!”
Karena penumpang sedikit, sengaja saya nagihnya ntar-ntar. Kira-kira sudah keluar dari jalur tol dan mau berhenti di depan Komdak, aku langsung tagih, “Pak, tadi uang saya 10 rb kembaliannya belum”.
“Ya!”, dengan singkat ia menjawab dan sambil merogoh sakunya.
Bis sudah berhenti. Mau ngga mau saya langsung turun dan si kondektur masih saja pura-pura sibuk merogoh sakunya kemudian sambil melambai tangan, dan bis perlahan melanjutkan perjalanan.

“Pak, kembaliannya!”, awalnya aku kejar tapi karena ngga mungkin aku naik bis lagi karena sudah ada janji dengan teman, akhirnya kurelakan kembalian yang dibawa kondektur dengan cara yang halus begini.

Saya mendapat pelajaran kali ini, lain kali saya harus bayar dengan uang pas. Trus, kalau memang ngga ada uang pas, kembalian langsung ditagih saat itu juga atau Perhatikan penumpang lain siapa saja yang belum bayar, ntar nagihnya bisa bareng sekalian ;)

Penumpang Muntah

Friday, December 7th, 2007

Aku pernah mendengar kisah aksi sekomplotan toekang tipoe yang beraksi di angkot - angkutan kota di Jakarta, yang modusnya ngga kalah seru!

Kalau ada penumpang yang muntah di samping atau sekitar kita, tetaplah radar mata Anda untuk selalu waspada. Bisa saja kita terfokus dengan percikan yang kena pakaian kita, sedangkan penumpang lain mencoba berusaha mengambil benda berharga yang kita bawa, misalnya : dompet atau ponsel.

Jangan sekalipun untuk mencoba berteriak, “Maling! Rampok! Copet! atau kalimat senada”. Bisa jadi Anda sendiri yang menjadi korban yang dituduh sebagai pelaku kejahatannya.

Atau kalau Anda ragu untuk meneruskan perjalanan, tinggal bilang “Kiri Bang!” dan langsung turun kemudian bayar.

Tukang Tipu di Angkot

Monday, November 19th, 2007

Waktu itu saya bersama keluarga sedang mencari bahan DVD kosong beserta atributnya untuk pesanan multimedia suatu sekolah. Biar waktunya efektif, istri saya belanja di Carrefour Mangga Dua sedangkan saya berencana ke Glodok. Saya naik dari jalan antara Carrefour dan WTC Mangga Dua.

Nah, Ceritanya diawali ketika saya naik angkot - angkutan kota –yang di dalamnya sudah ada 5 penumpang di sana, cowok semua. Saya duduk di posisi persis di belakang sopir. Tidak ada kecurigaan sama sekali di hati saya ketika  seorang bapak tua yang berbaju hem putih membuka pertanyaan.

“Asep tadi naik busway bareng ya, dari kampung melayu, kan?” kata penumpang I yang duduk di dekat pintu membelakangi sopir.

“Iya!” jawab saya singkat dan tidak memperhatikan mata si bapak. Mungkin karena saya baru trauma mendengar cerita rekan saya yang dihipnotis, pembicaraan sengaja saya batasi. Penumpang II yang duduk persis di samping saya membawa amplop lebar. Ia hanya diam. Rupanya kantong celana kiri samping saya sudah mulai dirogoh oleh penumpang III yang duduk di samping kiri sejajar penumpang kedua deretan kanan. Penumpang II membantu menutupinya dengan amplop di atas saku celana saya. Sehingga saya tidak bisa melihat. Saya masih belum curiga.Ada yang bilang, ”Kiri!” penumpang IV mulai beraksi. Ia memberi uang seribu dan lima ratus koin dari arah belakang pak Sopir. Saya melihat karena tepat di depan saya tangannya. Seketika itu juga uang koin lima ratus jatuh persis di dekat kaki saya. Saya melihat posisi jatuhnya ada dimana. Sementara penumpang IV rupanya nekat mengangkat kaki kiri saya mungkin maksudnya ingin mengalihkan perhatian, sementara saku saya pun tetap dirogoh oleh penumpang III. Sejak kaki saya diangkat, saya mulai curiga dengan kantong celana kiri saya kok ada yang gerak-gerak. Saya ingat ponsel saya ada di kantong celana kiri saya. Langsung saja saya minta berhenti pada sopir angkot dan bergegas turun. 

Tip Trik:

  1. Berdoa mohon perlindungan kepada yang Maha Kuasa
  2. Jangan layani serius pembicaraan orang yang belum Anda kenal
  3. Kalau Anda menyimpan ponsel di kantong celana, keluarkan baju kaos atau hem Anda, gunakan baju yang menutupi kantong samping celana Anda
  4. Jangan teriak copet atau maling ketika Anda mengetahui Anda ’terjebak’ dalam permainan sang copet. Tenangkan diri, baca doa-doa sambil mencari akal untuk menghindarinya. Kalau perlu, langsung saja teriak ”KIRI BANG!” dengan suara lantang…
  5. Setelah turun, perhatikan penumpang yang seangkot dengan Anda apakah ikut turun? Carilah tempat yang lebih aman.
      

  • Visitors

  • Recent Comments

  • Backlinks

  • Partner links

  • make money with your web site