Cerita ini bukan mengecilkan seorang kondektur, tapi ada saja kondektur yang berlaku sebagai tukang tipoe seperti yang saya alami sendiri.
Ceritanya begini, perjalanan diawali dari jalan baru dekat kampung rambutan. Kebetulan bis non AC yang saya tumpangi agak sepi. Memang rawan, karena saya pernah mengalami satu kejadian juga dengan si tukang tipoe bareng adik saya ketika naik bis yang kami pilih sepi. Lanjut, di tengah jalan si kondektur seperti biasa menagih ongkos perjalanan yang kebetulan tujuan akhirku di plangi atau plaza semanggi.
Saya membayar ongkos 10 ribu, karena kondekturnya ngga ada kembalian, dia bilang, “Kembaliannya, ntar yaa Pak!”
Karena penumpang sedikit, sengaja saya nagihnya ntar-ntar. Kira-kira sudah keluar dari jalur tol dan mau berhenti di depan Komdak, aku langsung tagih, “Pak, tadi uang saya 10 rb kembaliannya belum”.
“Ya!”, dengan singkat ia menjawab dan sambil merogoh sakunya.
Bis sudah berhenti. Mau ngga mau saya langsung turun dan si kondektur masih saja pura-pura sibuk merogoh sakunya kemudian sambil melambai tangan, dan bis perlahan melanjutkan perjalanan.
“Pak, kembaliannya!”, awalnya aku kejar tapi karena ngga mungkin aku naik bis lagi karena sudah ada janji dengan teman, akhirnya kurelakan kembalian yang dibawa kondektur dengan cara yang halus begini.
Saya mendapat pelajaran kali ini, lain kali saya harus bayar dengan uang pas. Trus, kalau memang ngga ada uang pas, kembalian langsung ditagih saat itu juga atau Perhatikan penumpang lain siapa saja yang belum bayar, ntar nagihnya bisa bareng sekalian